Terojolkan

A traveler, a lover, a volunteer, a mind-reader. Yeah, an engineer too.
Recent Tweets @fkrsyt

zahidhdr:

Setiap hari saya berusaha untuk mempelajari hal baru dalam kehidupan ini,
Misalnya belajar melupakan keburukan orang lain kepada saya, agar saya tidak menjadi pribadi pendendam.

@zahidhdr

pergijauh:

Kalo denger Sinema-Sinema, pasti kita jadi teringat pada acara di salah satu televisi swasta yang berinisial “RCTI” pada era 90an, acara yang dipandu oleh Ira Wibowo dan Mayong Suryolaksono itu menyajikan sinopsis dan review singkat tentang film-film yang akan atau sedang beredar di bisokop-bioskop, meski tak setajam Rotten Tomatoes, seenggaknya kita pernah punya acara pembahasan film seperti ini. 

Gue seneng baca-baca review-review film dan selalu baca review dari banyak sumber dan gue pribadi enggak terlalu percaya ketika sebuah film dibilang bagus atau jelek, karena ya itu, namanya review kan cuma opini, sangat subyektif. Sering, sih, ketika ada orang yang bilang film A jelek, tapi pas gue tonton bagus, film B bagus tapi pas gue liat malah jelek banget. Makanya gue harus nonton film itu untuk ngebuktiin sendiri.

Semua orang butuh hiburan, dan film adalah mahakarya hiburan yang bisa memenuhi aspek pemanjaan audio dan visual. Untuk pemanjaan audio dan visual tersebut kita harus berterimakasih sama orang yang menemukan bioskop. Sound nendang dan layar besar bisa membuat kita duduk  manis manja group. Tapi enggak selamanya kita bisa duduk manis manja group di bioskop, karena seringkali kita terganggu ketika bertemu dengan orang-orang yang bisa membuat kegiatan nonton kita jadi enggak asik. Nah, inilah dia tipe-tipe orang-orang annoying itu:

Gerombolan anak muda sok rusuh. Masuk kebioskop ketika film sudah mulai, jalannya agak lama karena nyari bangku dan ngalingin layar, becanda-becanda dengan suara kenceng, pas duduk masih ceng-cengan. Mungkin tipikal orang seperti ini terinspirasi dari lagu Ramones “I Don’t Want to Grow Up”, bagus memang, ya tapi jangan pas film udah mulai kaleeeee.

Orang yang banyak nanya. Bayangin, di tengah film lo lagi tegang-tegangnya nonton Prometheus, menerka-menerka kira-kira tuhan itu seperti apa dan tiba-tiba terdengar suara dari sekitar kursi lo ada orang bertanya sama pacarnya “Beb, akuh enggak ngerti filmnya, maksudnya apa sih?” atau “Kok mereka nyari tuhan sih? Kan enggak boleh dalam agamaaaaaa”. Nyebelin, kan? Nah, yang lebih nyebelin lagi ketika orang yang ditanya malah ngejawab, bukan nyuruh diem yang bertanya.

Orang tidur. Oke, enggak dipungkiri, gue juga pernah tidur di dalem bioskop, sering malah, tapi lo pasti tau jenis tidur apa yang paling ganggu? Yup, betul, ngorok. Bayangin sekarang, lo lagi nonton film Hachiko, pas adegan sedih si anjing nunggu majikan yang tak kunjung datang, air mata lo tertahan di kantung mata, sebentar lagi akan keluar dan tiba-tiba terdengar suara “Ngookkkk, krookkkkkkkk grrrauukkkkkk” dengan irama hyperblast ala ketukan drum Death Metal.

Orang yang bawa makanan dengan aroma menyengat. Tempat jual makanan di dalam bioskop sepertinya sudah lumayan lengkap, tapi seringkali kita ngidam suatu makanan yang memang enggak dijual bioskop, meskipun enggak boleh sama pihak bioskop untuk bawa makanan dari luar, tetep aja kita pernah bandel, itulah fungsi dari tas cewek sebenarnya, untuk nyelundupin makanan dari luar :p. Kalo cuma minuman kemasan atau snacks sih enggak apa-apa, nah kalo bawa makanan macem nasi padang, duren atau cempedak?

Orang dengan handphone yang enggak disilent. Lupa silent handphone ketika berada di dalam bioskop mungkin lo pernah ngalamin begitupun juga gue, tapi kan yah sebagai manusia yang tepo seliro di dalam pelajaran PMP kita kan langsung silent handphone pas ada panggilan masuk, yang nyebelin adalah ketika ada orang yang membiarkan handphonenya bunyi terus, lebih nyebelin lagi kalo ringtonenya lagu Buka Sitik Joss dengan volume maksimal dan bakal lebih nyebelin lagi kalo panggilan masuknya malah dijawab.

Orang yang membawa bayi. Sepertinya kategori umur di dalam perbioskopan Indonesia enggak ngaruh-ngaruh amat. Masih banyak anak-anak dibawah umur yang bisa nonton film dewasa, menurut gue kontrol pertama yang paling ngaruh ada di diri kita sendiri, jangan deh bawa anak kecil untuk nonton film yang bukan kategori umurnya dan yang paling penting adalah pikir dua kali kalo bawa bayi. Oke, gue sadar di dalam masyarakat urban yang sibuk, seringkali para pasangan membawa bayinya untuk nonton dengan alasan di rumah enggak ada yang jaga, tapi kalo bayinya nangis di tengah-tengah film malah jadi ngeganggu penonton yang lain. Kontrol kedua, dari pihak bioskop, sepertinya pihak bioskop harus sesegera mungkin menyedian Cry Room/Crying Room seperti di bioskop luar negeri.

Orang pacaran. Bukan maksud gue untuk iri karena gue single, tapi kalo pacaran di dalem bioskop ya sepertinya bukan tempat yang nyaman. Sebatas pegangan tangan, pala nyender di bahu atau kecup kening masih enggak apa-apa lah, nah kalo udah cipokan mesra maen-maenin lidah, grepe-grepe bahkan sampe pala si cewek tiba-tiba ilang, itu jadi pemandangan ganggu sih. Biasanya para pasangan ganggu ini sengaja nyari film yang durasinya lama. Saran gue, get a room.

Kalo lo ketemu tipikal orang-orang yang seperti ini, hak lo untuk kasih tau ke mereka akan keenggaknyamanan lo, kalo masih ngeyel juga, telpon Chuck Norris.

Gofar Hilman

ariniayulestari:

jalansaja:

kotak-nasi:

academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.
Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.
Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.
Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia
Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.
“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi”
“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”
“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”
Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.
Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.
Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.
Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.
Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.
Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.
Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.
Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.
Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia. 
Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.
Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.
 
Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.
Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.
Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

Bapak, suwun. Terima kasih banyak. :”)

:)

:’)

terimakasih pak telah menjadi presiden RI sejak saya SD hingga saya kuliah :)

ariniayulestari:

jalansaja:

kotak-nasi:

academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.

Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.

Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.

Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia

Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.

“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi

“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”

“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”

Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.

Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.

Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.

Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.

Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.

Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.

Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.

Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.

Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia.

Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.

Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.

 

Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.

Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.

Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

Bapak, suwun. Terima kasih banyak. :”)

:)

:’)

terimakasih pak telah menjadi presiden RI sejak saya SD hingga saya kuliah :)

(via mandalawangi)

Langit tidak perlu menjelaskan pada dunia bahwa dirinya tinggi
Anonymous (via dokterfina)

(via ayudyahpermatasari)

di Pantai Kelapa Tujuh-Suralaya, Banten

ke pantai dulu biar kaya orang-orang (di Pantai Kelapa Tujuh-Suralaya, Banten)

archatlas:

Off to School We Go

"The story might sound incredible to some, but it isn’t uncommon for children from less privileged regions facing immense hardship on their commute to the institute of learning. You will be surprised at the great lengths some children are willing to go to reach school." via

Dampingi aku ketika berjuang. Selama hidupku, kan mengakar namamu sampai ke tulang-tulang.

shitpostmemeboy:

dogmemes:

hoodbypussy:

Évolution inversée

he looked old for 14

“It took me four years to paint like Raphael, but a lifetime to paint like a child.”
― Pablo Picasso

(via vanezzs)

archatlas:

On the roads of North Ossetia Stas Ivanov